Tugas PPB Pertemuan 1

Nathanael Valen Susilo
5025231099

Perkembangan Teknologi Perangkat Bergerak

Awal Perkembangan Ponsel (1993 - 2007)

Pada awal tahun 1990-an hingga awal tahun 2000-an, fungsionalitas pada ponsel umumnya  masih sangat terbatas. Perilisan IBM Simon pada tahun 1994 menjadi satu kemajuan signigikan pada ponsel dengan menawarkan layar sentuh serta aplikasi seperti email dan faks, walaupun dengan jangkauan yang terbatas. Rilisan ponsel seperti IBM Simon ini kemudian diikuti oleh perusahaan lainnya seperti Motorola, Nokia, Sony, BBM, dan yang lainnya. Fitur pada perangkat-perangkat tersebut masih terbatas pada aplikasi bawaan seperti kalender, permainan sederhana seperti Snake, aplikasi kalkulator, dan fitur SMS. Aplikasi ini bersifat statis, memiliki interaktivitas minimal, dan beroperasi tanpa koneksi internet karena keterbatasan perangkat keras yang ada.

Ponsel-ponsel yang muncul pada era ini hanya memiliki aplikasi bawaan dari pabrik. Tidak ada fitur yang memungkinkan penggunanya untuk menambah aplikasi atau fitur baru selain dengan cara membeli perangkat baru yang memiliki aplikasi atau fitur tersebut. Pada era ini, banyak perusahaan berlomba-lomba untuk menghadirkan fitur-fitur eksklusif untuk menarik minat pengguna seperti fitur kamera depan, aplikasi chat eksklusif seperti BBM (BlackBerry Messenger), game eksklusif, audio jack, dan lain sebagainya.

Revolusi Smartphone - Kemunculan App Store  (2008 - 2012)

Kemajuan terbesar pada pengembangan aplikasi untuk perangkat bergerak secara keseluruhan dimulai pada peluncuran App Store (10 Juli 2008). Peluncuran App Store oleh Apple ini mengikuti perilisan iPhone 1 pada tahun sebelumnya. Peluncuran iOS dan App Store kemudian juga diikuti dengan kehadiran Android OS dengan Andoid Market (sekarang Google Play Store). Kedua OS (Operating System) ini kemudian dikenal sebagai pionir utama dan bahkan masih umum digunakan sebagai OS pada perangkat bergerak yang ada hingga resume ini dibuat. 

Pengaruh terbesar dari peluncuran kedua OS dengan adanya "toko aplikasi" bawaan yakni dengan memungkinkan pengguna mengubah sendiri bagaimana mereka menggunakan perangkat mereka dengan cara menambah aplikasi yang belum ada. Hal ini dimungkinkan karena para pengembang di seluruh dunia dapat mempublikasikan dan memonetisasi aplikasi mereka untuk pengguna secara global. Banyaknya pengembang aplikasi yang berlomba-lomba untuk menghadirkan aplikasi baru ke dalam ekosistem perangkat bergerak ini menjadi alasan utama cepatnya perkembangan software perangkat bergerak pada era ini.

Era ini memunculkan pengembangan aplikasi seluler asli (native) menggunakan Swift atau Objective-C untuk iOS dan Java untuk Android. Kategori aplikasi yang populer meliputi aplikasi hiburan, media sosial, game, dan alat bantu. Peningkatan kemampuan ponsel dari sisi perangkat keras terlihat dari penambahan dukungan seperti GPS, kamera yang lebih baik, dan akselerometer memungkinkan fungsionalitas aplikasi yang lebih inovatif dan interaktif.

Pengembangan Cross-Platform dan Integrasi Cloud (2013 - 2016)

Seiring dengan fenomena ponsel pintar yang menjadi barang umum, pelaku bisnis juga perlu memberikan pengalaman yang konsisten di platform Android maupun iOS. Alat pengembangan lintas-platform (cross-platform) seperti Xamarin, PhoneGap, dan Ionic mulai populer, memungkinkan pengembang menulis kode satu kali dan menerapkannya di berbagai platform. Hal ini mengurangi biaya dan mempercepat waktu peluncuran ke pasar. Selama era ini, integrasi cloud juga menjadi arus utama, memungkinkan sinkronisasi data secara real-time dan penyimpanan jarak jauh. Aplikasi seperti Google Drive dan Evernote mulau populer dari kemampuannya mengakses data secara mudah di berbagai perangkat.

AI, Machine Learning, dan Personalisasi (2017 - 2020)

Seiring perkembangan AI dan machine learning, aplikasi mulai berevolusi dari reaktif menjadi prediktif. Aplikasi kini dapat menawarkan konten yang dipersonalisasi, rekomendasi berdasarkan perilaku, dan bahkan interaksi secara cerdas kepada penggunanya. Asisten virtual seperti Google Assistant dan Siri menggunakan pemrosesan bahasa alami (NLP) untuk memahami perintah suara dan menyelesaikan tugas. Dalam aplikasi e-commerce dan media, mesin rekomendasi berbasis AI juga digunakan. AI juga digunakan dalam keamanan aplikasi, pengenalan wajah, dan analitik real-time. mengubah cara pengguna berinteraksi dengan aplikasi seluler.

Keamanan, Privasi, dan Kepatuhan (2018 - Sekarang)

Seiring pengguna menjadi lebih sadar akan privasi data, pengembang aplikasi mengalihkan fokus mereka ke praktik pengembangan yang lebih aman. Terdapat penekanan pada kepatuhan terhadap regulasi perlindungan data global seperti GDPR dan CCPA. Fitur-fitur seperti two-factor authentication, enkripsi end-to-end, keamanan biometrik, dan standar API yang aman. Pengembang juga mengadopsi prinsip privacy-by-design untuk membangun kepercayaan dan melindungi informasi penggunanya dari ancaman siber. Sistem mulai dibangun dengan fokus pada transparansi pengguna dan memungkinkan agar penggunanya dapat mengontrol sendiri data pribadinya.

5G dan IoT (2020 - 2023)

Penerapan teknologi 5G secara signifikan meningkatkan kemampuan aplikasi seluler dengan menawarkan kecepatan transfer data yang lebih cepat, latensi yang berkurang, dan koneksi yang lebih andal. Kemajuan ini memungkinkan pengembang untuk membangun aplikasi yang lebih canggih, termasuk smart wearable, smart home, perangkat AR (Augmented Reality) / VR (Virtual Reality), dan streaming video berkualitas tinggi. Secara paralel, Internet of Things (IoT) mulai terintegrasi ke dalam ekosistem seluler, menghubungkan aplikasi ke perangkat seperti jam tangan pintar, peralatan rumah tangga, dan kendaraan. Edge computing memainkan peran vital dengan memproses data lebih dekat ke perangkat, meningkatkan kecepatan, privasi, dan responsivitas aplikasi.

Aplikasi Berbasis AI dan Low Code (2024 - Sekarang)

Saat ini, pengembangan aplikasi seluler dibentuk oleh inovasi AI, platform pengembangan low-code, dan pengalaman pengguna yang imersif. Aplikasi prioritas AI (AI-first) sedang dibangun dengan machine learning sebagai intinya, memberikan pengalaman hiper-personalisasi, otomasi cerdas, dan respons prediktif. Tools low-code dan no-code seperti FlutterFlow dan OutSystems membuat pengembangan aplikasi dapat diakses oleh penggunan umum, walaupun bukan pengembang. Asisten suara, kontrol gerakan, AR/VR, dan teknologi blockchain semakin memperluas kemampuan aplikasinya. Super apps, yang menggabungkan berbagai layanan seperti pemesanan, pembayaran, dan belanja, menjadi populer di banyak wilayah. Fokus kini beralih dari sekadar fungsionalitas menjadi pengalaman aplikasi yang cerdas dan intuitif untuk pengguna umum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tugas PBO Pertemuan 12

Tugas PBO Pertemuan 11